piagam gumi sasak sebagai pondasi identitas suku sasak.
Setiap
hari manusia melakukan perkawinan yang menyebabkan terjadinya reproduksi
manusia-manusia baru yang lahir di muka bumi ini, sehingga menyebabkan
setiap hari manusia
mengalami peningkatan dalam jumlah yang banyak. Begitupun yang terjadi di gumi sasak, sebagai pijakan dan
tempat tinggal manusia- manusia yang lahir dan ditakdirkan sebagai manusia di tanah sasak ini. Maka dengan serangkain
proses itu, tentu akan menyebabkan
perubahan-perubahan yang ada di lingkungan masyarakat tersebut, manusia sebagai
makhluk yang dianugrahkan akal pikiran memiliki pungsi untuk menciptakan
perubahan-perubahan di muka bumi ini baik perubahan
yang disebabkan oleh dirinya sendiri maupun perubahan yang terjadi pada taran sosial
masyarakat. Sehingga dengan adanya perubahan,
maka perubahan tersebut
selalu diiringi oleh ego sendiri, mengakibatkan terjadinya
persaingan ketat di dalam kehidupan bermasyarakat
Untuk mensejahterakan kehidupan masing-masing, Begitulah dinamika kehidupan yang terjadi pada lingkungan masyrakat.
Tidak
terlepas di gumi
sasak ini, yang tentu memiliki SDM (sumber daya manusia ) yang melimpah, dengan gambaran
dinamika di atas tentu kita bisa melihat peluang-peluang yang terjadi pada
msayarakat itu sendiri, sebagai bentuk persaingan di dalam kehidupan yang fana
ini untuk mensejahterakan diri mereka Gumi Sasak merupakan sebuah tempat
bagi orang-orang
Sasak
menggantungkan harapan dan kehidupannya. Di tanah tersebut,
orang-orang Sasak melakukan serangkaian proses kehidupan
dari generasi ke generasi dan melahirkan bagian-bagian penting yang harus diketahui oleh generasi
mudanya. Kesuburan
tanahnya
mampu menopang kehidupan orang-orang Sasak karena sumber air yang mengalir dari gunung Rinjani secara
terus-menerus,sehingga menjadi berkah
tersendiri bagi orang-orang Sasak
Dengan adanya dorongan naluri pada diri setiap
insan untuk selalu membenahi dir
masin-masingi dengan cara apapun. Dinamika itulah
yang terjadi di gumi
sasak ini, persaingan yanng memilki tujuan dan kepentingan individu menyebabkan
lahirnya banyak cara untuk mencapai itu semua, terutama transportasi pendidikan
yang seringkali diperuntukkan
sebagai transportasi yang efektif untuk mencapai tujuan dan kepentingan individu
dan kepentingan bersama untuk
mencapai kehidupan yang sejahtera. Oleh karenanya banyak masyarakat suku sasak
yang menempuh pendidikan di luar daerah maupun di luar negeri demi terwujudnya
tujuan dan kepentingan mereka.
lahirnya proses tarnspormasi
yang terjadi pada masayarakat ini,
meneybabkan mereka berlomba-lomba menempuh pendidikan diluar daerah maupun diluar negeri. Yang barang tentu sangat mengakhawatirkan, apablia mereka hidup
sekian lama di daerah orang. Akan memabawa perubahan-perubahan dengan cara
mengadopsi kebiasan-kebiasaan masyarakat daerah tersebut. Sehingga ketika mereka kembali,
akan dikhawatirakan terjadinya persgesaran budaya sasak itu sendiri. Maka
berangkat dari sinilah sesepuh
masayrakat suku sasak melakuakan sebah proses perenungan untuk membendung
kekhawatiran mereka terhadap pergeseran budaya yang akan terjadi di gumi suku sasak ini. Yang melahirkan piagam gumi sasak sebagai pondasi
untuk memepertahankan identitas budaya sasak, sekaligus sebagai rambu-rambu terhadap
budaya-budaya asing yang berkembang di gumi sasak, yang ujung-ujugnya memberi dampak negatif terhadap
identitas suku sasak itu sendiri.
Maka Pada tanggal 26 Desember 2005 beretepatan
dengan tanggal 14 Mulut tahun Jimawal 1437/H
merupakan peristiwa yang sangat penting dan bersejarah untuk masyarakat
suku sasak, karena telah di sahkannya Piagam Gumi Sasak yang dihadiri oleh
tokoh-tokoh masyarakat sasambo di gedung aula Museum Negeri Nusa Tenggara
Barat. Piagam Gumi Sasak ini dibacakan langsung oleh bapak Dr. Muhammad Fadjri,
M.A, yang di dampingi oleh tokoh sastrawan bapak Murahim M.Pd, awal pencetusan
Piagam Gumi Sasak terjadi atas kegundahan dan kegelisahan terhadap apa yang akan
terjadi dengan masyarakat suku sasak.
PIAGAM GUMI SASAK
BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM
Menjadi
bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT
dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan
matarantai sejarah kemanusiaan, melalui symbol-symbol yang diletakkan dalam
pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Symbol-simbol yang
diletakkan itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju
jati dirinya yang sebenarnya.
Perjalanan
sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh
hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan ,
dan menistakan keluhuran budaya Sasak.
Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengetahuan jati diri, sampai
pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih
berlangsung hingg saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah bangsa yang ditulis dengan
perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialism modern. Hal itu telah
membuat bangsa ini menjadi bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat
kefitrahannya sebagai bangsa.
Sadar akan
hal tersebut, kami anak-anak bangsa sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai
berikut :
Pertama :
Berjuang
bersama menggali dan menegakkan jati diri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak
Kedua :
Berjuang
bersama memelihara, menjaga dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak
agar terpelihara kemurnian kebenarannya, kepatutan, dan keindahannya sesuai
dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang
bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan
yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dan menjunjung tinggi nilai
religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat :
Berjuang
bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat
untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima :
Berjuang
bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu dan berwibawa
dalam bingkai Negara Kesatuan Repuplik Indonesia.
Semoga Allah
SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak
menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14
Mulut tahun Jimawal 1437/H
26 Desember
2015
Ditandatangani
bersama kami,
- Drs. Lalu Azhar
- Drs. Haji Lalu Mujtahid
- Drs. Lalu Baiq Windia M.Si
- TGH. Ahyar Abduh
- Drs. Haji Husni Mu’adz MA., Ph. D
- Dr. Muhammad Fajri, M.A
- Dr. Jamaludin, M. Ag
- Dr. Lalu Abd. Kholik, M.Hum.
- Drs. H. A. Muhit Ellepaki, M. Hum
- Dr. H. Sudiman M. Pd
- Dr. H. L., Agus Fathurraman
- Mundzirin
- L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.
Narasumber :
L. Ari Irawan, SE., S. PD., M. Pd.





Terimakasi postingnnya. Semoga bermanfaat untuk generasi muda suku sasak
BalasHapusTerimakasih informasinya. Jadi apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi muda untuk tetap melestarikan budaya terutama budaya Sasak?
BalasHapustugas kita jelas.
Hapussebagai pemuda sasak harus memnculkan rasa bangga dan siap melestarikan budaya sasak itu sendiri.
jgn samapi budaya kita mengalami pergeseran dgn adanya2 budaya luar yg gk jelas(yg malah kita gk tau maknanya).
maka sebagai gnerasi mudaya harus bersyukur atas budaya yg diwariskan oleh tetua2 kita.
dgn cara menjaga dan mel3starikannya.
Luar biasa dan tetap lestarikan budaya
BalasHapusnice tulisannya
BalasHapusTongkat nabi musa.
BalasHapusTrimkasih informasi yg sangat bermanfaat
BalasHapusMakasih infonya..
BalasHapus😊😊
Tulisan yg menambah wawasan kita...lanjutkan Saundra
BalasHapusSemoga dengan tulisan ini,bisa membuka fikiran kita semua.
BalasHapusIs the best..
BalasHapusInformasi yang bermanfaat
BalasHapusInformasi yang bermanfaat
BalasHapusterimkasih atas kesediannya membaca
BalasHapus